Bagi sebagian orang, bisa berjalan kaki di sore hari atau sekadar menaiki anak tangga tanpa rasa nyeri adalah sebuah kemewahan. Bayangkan jika rasa sakit di lutut mencuri momen-momen berharga dalam hidup Anda, mulai dari beribadah dengan khusyuk hingga menyalurkan hobi berolahraga.
Rasa cemas inilah yang sempat menggelayuti pikiran Vera. Namun, tiga bulan pasca-menjalani operasi penggantian kedua sendi lutut (bilateral knee replacement), sebuah keajaiban kecil terjadi. Vera tidak hanya bisa berjalan tegak tanpa ringisan di wajah, ia bahkan sukses membawa pulang trofi kemenangan dari sebuah kompetisi olahraga renang.
Cerita inspiratif Vera hanyalah satu dari sekian banyak bukti nyata bagaimana inovasi medis modern kini mampu mengembalikan “roda kehidupan” seseorang yang sempat terhenti akibat masalah muskuloskeletal.
Semangat untuk mengembalikan kebebasan bergerak inilah yang melandasi perhelatan akbar Siloam Orthovolution 2026: Symposium & Live Surgery yang digelar untuk pertama kalinya di Siloam Hospitals Mampang pada Sabtu, 6 Juni 2026. Dengan tema “Transforming Orthopaedic Care Through Innovation,” acara ini menandai langkah megah rumah sakit premium tersebut bertransformasi menjadi pusat rujukan nasional: Siloam Orthopaedic Hospital.
Ketika Teknologi Bertemu dengan Empati
Gempita simposium ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul biasa. Lebih dari 200 dokter dan tenaga medis dari berbagai penjuru berkumpul, menyerap ilmu dari 14 pembicara lintas negara—termasuk pakar orthopaedi kenamaan asal Brisbane, Australia, dr. Peter Gifford.
Siloam International Hospitals tampaknya tidak main-main dalam menatap masa depan layanan kesehatan tulang di Indonesia. Kehadiran teknologi mutakhir seperti robotic-assisted surgery (bedah berbantuan robot), navigasi bedah presisi tinggi, hingga terapi mutakhir stem cell kini bukan lagi cerita di film fiksi ilmiah, melainkan realitas medis yang siap dinikmati pasien.
“Melalui Siloam Orthovolution 2026, kami ingin menghadirkan standar layanan orthopaedi yang semakin kuat melalui keunggulan klinis, inovasi teknologi, dan kolaborasi multidisiplin,” ungkap David Utama, Presiden Direktur Siloam International Hospitals.
Senada dengan David, Ratih Hadiwinoto selaku CEO Siloam Hospitals Mampang menegaskan komitmen mereka untuk memberikan pengalaman medis kelas atas yang personal bagi setiap pasien yang datang.
“Kami ingin masyarakat semakin mengenal Siloam Hospitals Mampang sebagai rumah sakit premium dengan layanan orthopaedi yang kuat, lengkap, dan menyeluruh,” tutur Ratih.

Lebih dari Sekadar Meja Operasi
Ada anggapan di masyarakat bahwa datang ke dokter spesialis orthopaedi berarti harus selalu berakhir di meja operasi yang menyeramkan. Mitos inilah yang ditepis dengan hangat dalam forum ilmiah tersebut.
Baca Juga:
- Bukan Hanya untuk Bubur, Kacang Hijau Ternyata Jadi Rahasia Skincare Korea yang Sedang Viral
- Apa Itu Vaksin EV71 HFMD dan Mengapa Orang Dewasa Juga Wajib Vaksin?
- Masih Menganggap Kacamata Hitam Hanya Gaya? Dokter Mata Ungkap Manfaat yang Bisa Menyelamatkan Penglihatan Anda
Ternyata, rahasia kesembuhan pasien di masa kini terletak pada kolaborasi yang apik. Pasien tidak hanya ditangani oleh satu dokter, melainkan dikelilingi oleh sebuah “ekosistem” penyembuhan yang melibatkan dokter spesialis rehabilitasi medik, radiologi, anestesi, ahli fisioterapi, hingga perawat khusus.
dr. Henry Suhendra, Sp.OT, Subsp.CO(K), salah satu Founder Siloam Hospitals Mampang, memberikan pandangan yang sangat menenangkan bagi para pasien yang kerap dirundung rasa takut.
“Teknologi penting untuk meningkatkan presisi dan keamanan tindakan, tetapi tujuan utama kami adalah membantu pasien kembali bergerak dan hidup lebih baik. Dalam banyak kondisi, terapi konservatif, rehabilitasi terarah, dan pemantauan berkelanjutan juga memiliki peran penting,” jelas dr. Henry.
Artinya, operasi adalah jalan paling presisi jika memang dibutuhkan. Namun di luar itu, kenyamanan dan kesiapan mental pasien adalah prioritas utama.
Menghidupkan Kembali Harapan yang Sempat Redup
Sisi humanis dari teknologi kedokteran tercermin paling indah lewat senyuman para pasiennya. Selain Vera yang sukses kembali ke arena olahraga, ada pula kisah dari Iskandar Abubakar.
Sebagai pria yang sempat ragu melangkahkan kaki ke ruang operasi untuk tindakan Total Knee Replacement (TKR), Iskandar mengaku bahwa dukungan emosional dari tim medis adalah kunci kekuatannya.
“Bagi saya, keputusan untuk menjalani tindakan TKR bukan keputusan yang mudah. Ada rasa khawatir,” kenang Iskandar tulus. “Namun yang paling berarti bagi saya adalah merasa didampingi, bukan hanya saat tindakan, tetapi juga dalam proses untuk bisa kembali bergerak dan beraktivitas dengan lebih baik.”
Melalui Siloam Orthovolution 2026, Siloam Hospitals Mampang mengirimkan pesan kuat kepada masyarakat Indonesia: Anda tidak harus hidup berdampingan dengan rasa nyeri sendi selamanya. Dengan penanganan yang tepat, teknologi yang presisi, dan perawatan yang memanusiakan manusia, impian untuk kembali bergerak aktif, beribadah dengan nyaman, dan menikmati hidup dengan optimal kini ada di depan mata. (Penulis: Rindriani)

