Pernah melihat bintik-bintik hitam kecil di pipi, pelipis, atau sekitar mata yang tampak seperti flek, tetapi sedikit menonjol? Banyak perempuan mengira itu hanyalah tanda penuaan atau bekas paparan sinar matahari. Padahal, kondisi tersebut bisa jadi merupakan dermatosis papulosa nigra pada perempuan Asia, atau yang lebih dikenal sebagai DPN. Kondisi kulit ini ternyata sangat umum terjadi pada orang dengan warna kulit lebih gelap, termasuk perempuan Asia dan keturunan Afrika.
Belakangan, topik ini menjadi perbincangan hangat setelah semakin banyak perempuan membagikan pengalaman mereka mengenai DPN di media sosial dan media kecantikan internasional. Bahkan banyak yang baru mengetahui bahwa “flek hitam kecil” yang mereka miliki selama bertahun-tahun ternyata memiliki nama medis tersendiri.
Apa Itu Dermatosis Papulosa Nigra?
Dermatosis Papulosa Nigra (DPN) adalah kondisi kulit jinak yang ditandai dengan munculnya benjolan kecil berwarna cokelat hingga hitam pada wajah, leher, dada, atau punggung bagian atas. Lesi ini tidak berbahaya dan tidak bersifat kanker. DPN sering dianggap sebagai variasi dari seborrheic keratosis, yaitu pertumbuhan kulit non-kanker yang umum ditemukan pada orang dewasa.
Yang menarik, dermatosis papulosa nigra pada perempuan Asia sering kali mulai muncul sejak masa remaja atau usia dewasa muda, lalu bertambah jumlahnya seiring bertambahnya usia.
Mengapa Banyak Perempuan Tidak Menyadarinya?
Salah satu alasan DPN sering tidak dikenali adalah karena bentuknya menyerupai:
- Flek hitam
- Tahi lalat kecil
- Beauty marks
- Sun spots
- Freckles
Padahal jika diperhatikan lebih dekat, DPN sedikit menonjol dari permukaan kulit dan terasa bertekstur ketika disentuh. Banyak perempuan baru menyadarinya setelah jumlahnya bertambah atau ukurannya menjadi lebih besar.
Faktor Genetik Ternyata Sangat Berpengaruh
Para ahli dermatologi menyebut faktor keturunan sebagai penyebab utama DPN.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sekitar 75–95% penderita memiliki anggota keluarga lain yang mengalami kondisi serupa. Itulah sebabnya banyak orang menemukan bahwa ibu, nenek, atau kerabat dekat mereka juga memiliki bintik yang sama pada wajah.
Selain faktor genetik, paparan sinar ultraviolet dalam jangka panjang juga diduga berkontribusi terhadap perkembangan DPN.
Lebih Sering Terjadi pada Perempuan
Fakta yang jarang diketahui adalah perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami DPN dibanding laki-laki.
Menurut berbagai laporan dermatologi, perempuan dapat mengalami kondisi ini hingga dua kali lebih sering dibanding pria. Selain itu, individu dengan warna kulit yang lebih gelap juga memiliki prevalensi yang lebih tinggi.
Karena itu, dermatosis papulosa nigra pada perempuan Asia menjadi topik yang semakin banyak mendapat perhatian dari kalangan dermatolog dan praktisi kecantikan.
Apakah DPN Berbahaya?
Kabar baiknya, DPN bukan kanker kulit dan tidak berkembang menjadi kanker.
Sebagian besar lesi DPN tidak menimbulkan rasa sakit, gatal, maupun gangguan kesehatan lainnya. Namun karena muncul di area wajah, banyak orang merasa terganggu secara estetika sehingga memilih melakukan prosedur pengangkatan.
Meski demikian, dokter tetap menyarankan pemeriksaan dermatologis apabila terdapat perubahan bentuk, warna, perdarahan, atau pertumbuhan yang tidak biasa untuk memastikan tidak ada kondisi lain yang menyerupai DPN.
Bisakah DPN Dihilangkan?
Jawabannya bisa.
Beberapa metode yang umum digunakan meliputi:
- Elektrokauter (electrocautery)
- Elektrodesikasi
- Laser
- Kuretase
- Cryotherapy (pembekuan)
Namun prosedur ini dilakukan terutama untuk alasan kosmetik, bukan medis. Para ahli mengingatkan bahwa individu dengan warna kulit lebih gelap memiliki risiko lebih tinggi mengalami hiperpigmentasi atau perubahan warna kulit setelah tindakan. Karena itu pemilihan dokter yang berpengalaman sangat penting.
Mengapa Topik Ini Semakin Banyak Dibicarakan?
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak perempuan yang mulai melihat DPN dari sudut pandang berbeda.
Jika sebelumnya banyak yang ingin menghilangkannya, kini sebagian perempuan justru memilih mempertahankannya sebagai bagian dari identitas dan karakter wajah mereka. Beberapa bahkan menyebutnya sebagai “beauty marks” atau “black girl freckles”.
Perubahan perspektif ini menunjukkan meningkatnya kesadaran bahwa tidak semua kondisi kulit harus disamakan dengan standar kecantikan tertentu.
Di balik ukurannya yang kecil, dermatosis papulosa nigra pada perempuan Asia menyimpan cerita yang lebih besar tentang genetika, identitas, dan penerimaan diri. Bagi sebagian orang, DPN mungkin dianggap sebagai gangguan estetika. Namun bagi yang lain, bintik-bintik kecil tersebut justru menjadi bagian unik dari warisan keluarga dan karakter wajah mereka.
Yang terpenting, memahami apa itu DPN membantu perempuan mengambil keputusan yang lebih tepat mengenai kesehatan kulit mereka—apakah memilih mempertahankannya, atau menghilangkannya melalui prosedur medis yang aman.
Referensi:
- Xiao, A., Muse, M.E. and Ettefagh, L. (2023) Dermatosis Papulosa Nigra. StatPearls Publishing. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534205/.
- Gottlieb, M., Roesch, E. and Samie, F.H. (2024) Management of Dermatosis Papulosa Nigra: A Systematic Review. International Journal of Dermatology. Available at: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39367526/
- McQueen, J. (2025) What Is Dermatosis Papulosa Nigra? WebMD. Available at: https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/what-is-dermatosis-papulosa-nigra

