Fenomena perempuan bertahan dalam hubungan tanpa cinta semakin banyak terjadi, namun jarang dibicarakan secara terbuka.
Di balik hubungan yang terlihat “baik-baik saja”, tidak sedikit perempuan yang sebenarnya mengalami kelelahan emosional, kehilangan makna, hingga merasa kosong dalam hubungan yang dijalani.
Kondisi ini sering kali tidak disadari, karena hubungan tetap berjalan secara “normal” di permukaan, tanpa konflik besar,
tanpa perpisahan, tetapi juga tanpa kedekatan emosional yang nyata.
Secara psikologis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui beberapa faktor, salah satunya adalah keterikatan emosional yang terbentuk dari waktu ke waktu.
Menurut Mikulincer dan Shaver, individu dengan pola attachment tertentu cenderung bertahan dalam hubungan meskipun tidak lagi merasa bahagia,
karena adanya kebutuhan akan rasa aman dan takut kehilangan (Mikulincer & Shaver, 2007).
Selain itu, tekanan sosial juga memainkan peran besar. Banyak perempuan merasa harus mempertahankan hubungan karena norma sosial,
status, atau bahkan ketakutan terhadap stigma jika harus memulai kembali dari awal.
Baca Juga:
Wanita Karier Tak Selalu Bergelar Direktur
Kenapa Pasangan Sering Lupa Merawat Perempuan Tangguh?
Kenapa Perempuan Kuat Jarang Merasa Dicintai?
Perspektif GWID
Hal ini diperkuat oleh penelitian yang menunjukkan bahwa faktor sosial dan ekspektasi lingkungan dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam mempertahankan hubungan (Simon & Nath, 2004).
Fenomena lain yang sering terjadi adalah emotional burnout dalam hubungan, kondisi di mana seseorang merasa lelah secara emosional akibat hubungan yang tidak lagi memberikan dukungan psikologis.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental, termasuk meningkatnya risiko stres dan depresi (Nolen-Hoeksema, 2001).
Tidak sedikit pula perempuan yang tetap bertahan karena adanya harapan bahwa pasangan akan berubah.
Namun, menurut kajian psikologi hubungan, perubahan tanpa kesadaran dan komitmen dari kedua belah pihak cenderung sulit terjadi secara signifikan (Firestone, 2013).
Di sisi lain, pola komunikasi yang tidak sehat, seperti menghindari konflik atau tidak pernah membicarakan perasaan secara terbuka,
memperparah kondisi hubungan tanpa cinta ini. Pola “demand-withdraw” menjadi salah satu dinamika umum yang membuat
hubungan tetap berjalan tanpa penyelesaian masalah yang jelas (Christensen & Heavey, 1990).
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa hubungan yang sehat bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang kualitas emosional yang dirasakan kedua pihak.
Hubungan tanpa konflik belum tentu sehat, dan bertahan tidak selalu berarti bahagia.
Para ahli menyarankan pentingnya kesadaran diri, komunikasi yang jujur, serta keberanian untuk mengevaluasi hubungan secara objektif.
Dalam beberapa kasus, memilih untuk melepaskan justru menjadi langkah yang lebih sehat dibandingkan mempertahankan hubungan yang sudah kehilangan makna.
Referensi:
- Mikulincer, M. & Shaver, P.R. (2007) Attachment in Adulthood: Structure, Dynamics, and Change. Available at: https://psycnet.apa.org/record/2007-03877-000
- Simon, R.W. & Nath, L.E. (2004) ‘Gender and Emotion in the United States’, American Journal of Sociology, 109(5). Available at: https://www.journals.uchicago.edu/doi/10.1086/382111
- Nolen-Hoeksema, S. (2001) ‘Gender Differences in Depression’, Current Directions in Psychological Science, 10(5). Available at: https://journals.sagepub.com/doi/10.1111/1467-8721.00142
- Firestone, R.W. (2013) ‘Fear of Intimacy’, PsychAlive. Available at: https://www.psychalive.org/fear-of-intimacy/ Christensen, A. & Heavey, C.L. (1990) ‘Demand/Withdraw Pattern in Relationships’, Journal of Personality and Social Psychology, 59(1). Available at: https://psycnet.apa.org/record/1990-30577-001

