Surat Terbuka dari Seorang Pria yang Terlambat Sadar

Surat Terbuka dari Seorang Pria yang Terlambat Sadar

Anonymous Male Confession

Untuk perempuan yang pernah kukejar dengan penuh keyakinan,
namun gagal kujaga dengan kesadaran.

Aku menulis ini tanpa namaku,
karena yang penting bukan siapa aku,
melainkan apa yang akhirnya kupahami.

Aku pernah sangat ingin memilikimu.
Aku memperjuangkanmu dengan cara yang membuatmu percaya
bahwa aku adalah tempat pulang yang aman.

Namun setelah kamu memilihku,
aku berhenti berjuang.

Bukan karena cintaku habis,
melainkan karena aku keliru mengira
bahwa kehadiranmu sudah pasti.

Aku menganggap cintamu akan selalu mengerti.
Aku salah.

Aku tidak pernah berselingkuh.
Aku tidak pernah pergi secara fisik.
Dan kupikir itu cukup.

Aku tidak tahu bahwa perempuan bisa hancur
bukan karena dikhianati,
melainkan karena diabaikan secara perlahan.

Aku melihatmu berbicara,
namun tidak sungguh-sungguh mendengar.
Aku melihatmu lelah,
namun memilih diam agar tidak perlu berubah.

Kupikir ketenanganku adalah kedewasaan.
Ternyata itu hanya caraku menghindari tanggung jawab emosional.

Kamu tidak pergi tiba-tiba.
Kamu pergi setelah terlalu lama mencoba.

Kamu pergi setelah mengulang kata yang sama berkali-kali,

menurunkan harapan sedikit demi sedikit dan menerima lebih sedikit,

sambil berharap aku akan sadar.

Saat kamu berhenti menuntut,
aku mengira kamu sudah baik-baik saja.

Sekarang aku tahu,
itulah tanda kamu sudah menyerah.

Aku baru paham ketika tidak ada lagi pesan yang menanyakan kabarku,

mata yang menungguku berubah dan suara yang masih percaya aku bisa lebih baik.

Kehilanganmu tidak terasa seperti drama.
Ia sunyi.
Dan kesunyian itu menyadarkanku terlalu terlambat.

Jika surat ini sampai padamu,
aku ingin kamu tahu satu hal,

Kamu tidak berlebihan.
Kamu tidak terlalu sensitif.
Kamu tidak menuntut terlalu banyak.

Aku hanya pria yang belum siap
menjaga sesuatu yang dulu sangat ingin kumiliki.

Dan untuk perempuan lain yang membaca ini, Jika seorang pria hebat di awal tapi pasif di dalam,

nyaman menerima tapi malas merawat dan menganggap cintamu akan selalu menunggu, percayalah, masalahnya bukan kamu.

Cinta tidak mati karena kurang usaha di awal, tetapi karena terlalu lama ditinggalkan di tengah.

Aku menyesal.
Bukan karena kehilangan status “punya pasangan”.
Tetapi karena kehilangan perempuan
yang sebenarnya hanya ingin ditemani,
bukan diperjuangkan sendirian.

Anonymous

Surat ini adalah pengakuan, bukan pembenaran.


Kesadaran yang datang setelah kehilangan tidak selalu layak mendapat kesempatan kedua, tetapi layak menjadi pelajaran bagi yang lain.

Baca Juga:
Cara Masuk Hubungan Baru Tanpa Membawa Trauma Lama
Yang Jarang Diucapkan Pria: Realita Zona Abu-Abu Marriage dari Sudut Pandang Mereka
Mengapa Pria Pandai Mengejar tapi Lalai Menjaga?

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *