Hari Ibu tak lagi hanya tentang bunga dan ucapan terima kasih. Di balik peringatan ini, tersimpan kisah-kisah perempuan yang menjalani peran ganda—sebagai ibu, profesional, sekaligus agen perubahan. Salah satunya datang dari ruang laboratorium Unicharm Indonesia, melalui sosok Yulia Kristina.
Ia bukan hanya seorang ibu bekerja. Yulia mencatat sejarah sebagai karyawati lokal pertama yang menduduki posisi Manager di Divisi Research & Development (R&D) Unicharm Indonesia—sebuah posisi strategis yang sebelumnya didominasi oleh ekspatriat Jepang.
Berawal dari R&D, Bertumbuh Bersama Proses
Yulia Kristina bergabung dengan Unicharm Indonesia pada tahun 2013 sebagai bagian dari tim R&D untuk produk pembalut wanita CHARM. Saat itu, mungkin tak banyak yang membayangkan bahwa lebih dari satu dekade kemudian, ia akan menjadi simbol kepercayaan perusahaan terhadap talenta perempuan lokal.
Perjalanan tersebut ditempuh lewat konsistensi, dedikasi, dan proses belajar yang panjang. Selama lebih dari 12 tahun, Yulia terlibat langsung dalam berbagai pengembangan produk, hingga akhirnya dipercaya memimpin tim R&D.
“Sejak awal bergabung, Unicharm menyediakan program training dan mentoring yang sangat terstruktur. Saya juga beberapa kali mendapat kesempatan belajar langsung ke kantor pusat di Jepang,” ujar Yulia.
Di sana, ia tak hanya mempelajari standar kualitas global, tetapi juga menyerap filosofi kerja Monozukuri—etos kerja Jepang yang menjunjung kesempurnaan detail dan dedikasi penuh dalam menciptakan produk yang bermakna bagi kehidupan konsumen.
R&D Unicharm Indonesia: Lebih dari Sekadar Laboratorium
Divisi R&D Unicharm Indonesia memegang peran strategis sebagai hub R&D Unicharm Group di Asia Tenggara. Dari sinilah berbagai inovasi produk lahir—bahkan menjadi yang pertama di dunia.
Namun lebih dari itu, R&D Unicharm Indonesia juga menjadi pionir dalam pemberdayaan talenta lokal, khususnya perempuan, dengan memberikan kepercayaan penuh untuk memimpin secara mandiri.
“Perspektif perempuan sangat penting dalam inovasi produk kesehatan dan kebersihan,” tegas Yulia.
Sebagai perempuan, ia memahami secara langsung kebutuhan, kenyamanan, hingga isu sensitif yang dialami perempuan saat menstruasi—mulai dari rasa pengap di cuaca panas, kekhawatiran akan bau, hingga risiko bocor saat tidur malam.
Dari insight tersebut, lahirlah produk-produk seperti CHARM Cooling Fresh, CHARM Daun Sirih, hingga CHARM Safe Night.
“Perspektif perempuan bukan hanya soal empati, tetapi juga kualitas, fungsionalitas, dan keamanan yang menentukan daya saing produk,” tambahnya.
Menjadi Ibu dan Pemimpin: Tentang Support System
Di balik pencapaian profesionalnya, Yulia juga menjalani peran sebagai seorang ibu. Ia tak menampik bahwa tantangan selalu ada, namun kuncinya terletak pada support system yang solid.
“Saya beruntung memiliki pasangan yang sangat memahami kesibukan pekerjaan saya dan siap berbagi peran di rumah. Di kantor, tim saya sangat kooperatif, dan atasan selalu memberi motivasi serta kesempatan berkembang,” ungkap Yulia.
Baginya, kesempatan yang setara—tanpa memandang gender dan kewarganegaraan—akan melahirkan nilai sosial sekaligus produk terbaik.
Komitmen Unicharm untuk Perempuan Indonesia
Kisah Yulia menjadi cerminan nyata komitmen Unicharm dalam menciptakan ruang tumbuh bagi perempuan. Hal ini ditegaskan oleh Sri Haryani, Direktur Unicharm Indonesia.
“Visi perusahaan kami adalah menjadi perusahaan nomor satu yang selalu dicintai seluruh wanita di Indonesia. Visi ini diwujudkan tidak hanya melalui produk inovatif, tetapi juga kepedulian terhadap karyawati,” ujarnya.
Unicharm secara konsisten menyediakan berbagai program pelatihan—mulai dari pengembangan hard skill, soft skill, hingga jiwa kepemimpinan.
“Kami juga membuka forum berbagi bagi karyawati yang sudah berada di posisi eksekutif untuk memotivasi generasi muda,” tambah Sri.
Semua ini sejalan dengan corporate brand essence Unicharm, Love Your Possibilities, yang mendorong setiap individu untuk menggali potensi terbaiknya.
Ibu Bekerja di Era Modern: Tantangan dan Strategi
Makna Hari Ibu kini semakin luas. Data BPS 2024 mencatat bahwa 50% tenaga profesional di Indonesia adalah perempuan, meningkat sekitar 2% dibanding tahun 2020.
Namun, menjadi ibu bekerja tetap penuh tantangan. Cecilia Helmina E., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa tekanan yang dirasakan ibu bekerja cenderung lebih besar.
“Studi dari University of Pennsylvania menunjukkan bahwa ibu merasakan tekanan lebih tinggi dibanding ayah dalam menyeimbangkan pekerjaan dan urusan rumah,” jelasnya.
Cecilia membagikan tiga strategi praktis:
- Berbagi peran domestik, termasuk meminta bantuan profesional bila diperlukan.
- Komunikasi terbuka dengan pasangan dan keluarga untuk pembagian tugas yang adil.
- Fokus pada kualitas interaksi dengan anak, bukan kuantitas waktu.
“Kehadiran ibu yang utuh—tanpa distraksi pekerjaan—akan membuat anak merasa diperhatikan dan aman,” ujarnya.
Inspirasi di Hari Ibu
Di Hari Ibu ini, kisah Yulia Kristina mengingatkan kita bahwa perempuan dapat bertumbuh tanpa harus memilih antara keluarga dan karier. Dengan dukungan yang tepat, ruang yang adil, dan keberanian untuk melangkah, batas-batas itu bisa ditembus.
Dari balik laboratorium hingga ruang kepemimpinan, Yulia membuktikan bahwa potensi perempuan—seperti visi Unicharm—memang tak terbatas. (Penulis: Ririn Indriani)

