Anak Terlihat Sehat, Diam-Diam Alami Hidden Hunger: Apa Itu?
Ilustrasi anak. (Foto: Pexels/Denafi SY)

Anak Terlihat Sehat, Diam-Diam Alami Hidden Hunger: Apa Itu?

Sebagai ibu, kita sering mengukur kebahagiaan dari hal-hal sederhana: tawa anak yang riang, tubuh kecil yang lincah berlari, dan hari-hari tanpa demam atau batuk. Rasanya cukup meyakinkan—anak terlihat baik-baik saja.

Namun, di balik itu semua, ada kondisi yang sering luput dari perhatian: hidden hunger. Kekurangan zat gizi mikro yang tidak selalu menampakkan tanda jelas, tetapi diam-diam memengaruhi tumbuh kembang anak.

Faktanya, satu dari dua anak Indonesia usia 0,5–12 tahun mengalami kekurangan mikronutrien penting, seperti vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin D, dan zinc. Kekurangan ini bukan soal anak kurang makan, melainkan tubuhnya belum mendapatkan apa yang benar-benar dibutuhkan.

Luka yang Tak Terlihat, Dampaknya Bisa Seumur Hidup

Hidden hunger bekerja pelan, nyaris tak terasa. Anak tetap bermain, tetap tertawa. Namun di dalam tubuhnya, kekurangan nutrisi dapat memengaruhi daya tahan tubuh, energi, fokus belajar, bahkan potensi kecerdasannya di masa depan.

Data menunjukkan, satu dari empat anak Indonesia masih mengalami defisiensi vitamin D, nutrisi penting untuk imunitas dan kekuatan tulang. Lebih dari itu, hampir 1 dari 5 balita Indonesia mengalami stunting—kondisi yang dapat memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak dalam jangka panjang.

Bagi seorang ibu, angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah cerita tentang anak-anak yang sedang tumbuh—tentang masa depan yang sedang dibentuk hari ini.

Cinta Ibu Itu Nyata, Tapi Perlu Didukung Pengetahuan

Sebagian besar ibu sudah memberikan cinta tanpa batas. Memasak dengan sepenuh hati, memastikan anak kenyang, menghibur saat lelah. Namun, cinta saja belum tentu cukup jika tidak dibarengi pemahaman tentang nutrisi yang lengkap.

Mesty Ariotedjo, CEO Tentang Anak. (Foto: Dok. Expert Boost)

Menurut Mesty Ariotedjo, CEO Tentang Anak, nutrisi adalah fondasi awal dari masa depan anak.

“Setiap orang tua pasti ingin anaknya cerdas dan sehat. Nutrisi anak yang tercukupi adalah modal dari otak yang cerdas dan generasi negara yang berkualitas. Jika kita ingin membuat dunia lebih cerah, kita harus memulainya dari rumah. Beri cukup cinta, beri cukup nutrisi,” tutur Mesty saat Live Podcast Boostopia by Expertboost di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).

Kalimat ini terasa seperti pengingat lembut—bahwa perhatian kecil hari ini bisa menjadi bekal besar bagi anak kelak.

Ketika Anak Belajar, Ibu Juga Bertumbuh

Kesadaran akan pentingnya nutrisi inilah yang melahirkan Boostopia, The 1st Intelligent Squishy Playground for Kids di Indonesia. Sebuah ruang bermain yang bukan hanya menyenangkan, tapi juga sarat makna.

Digelar pada 5–8 Februari 2026 di Street Gallery Pondok Indah Mall, Boostopia mengajak anak mengenal peran vitamin dan mineral melalui pengalaman bermain yang seru dan ramah anak. Di saat yang sama, ibu diberi ruang untuk belajar, bertanya, dan merasa ditemani.

Ruang Aman bagi Ibu untuk Tidak Selalu Tahu Segalanya

Di Expert Zone, para ibu bisa berkonsultasi langsung dengan dokter anak, memantau tumbuh kembang si kecil, hingga melakukan cek pertumbuhan gratis melalui aplikasi Tentang Anak. Aplikasi ini telah dipercaya oleh lebih dari dua juta keluarga di Indonesia.

Karena menjadi ibu tidak berarti harus selalu tahu segalanya—tapi berani mencari tahu dan belajar bersama.

Aktris Nikita Willy yang juga
Brand Ambassador Expert Boost. (Foto: Dok. Expert Boost)

Dari Seorang Ibu untuk Ibu Lainnya

Sebagai ibu, Nikita Willy juga merasakan keresahan yang sama soal nutrisi anak.

“Sebagai seorang ibu, aku menyadari bahwa nutrisi anak sering menjadi kekhawatiran banyak orang tua. Aku memilih pendekatan berbasis riset dan rekomendasi para ahli agar anak mendapatkan nutrisi yang tepat sejak dini,” ungkap Nikita yang juga merupakan Brand Ambassador Expert Boost.

Sebuah pilihan yang lahir dari cinta, bukan sekadar tren.

Masa Depan Anak Dibangun dari Hal-Hal Kecil Hari Ini

Hidden hunger mungkin tak terlihat oleh mata, tapi bisa dirasakan dampaknya di kemudian hari. Dengan memahami nutrisi, memantau tumbuh kembang, dan terus belajar sebagai ibu, kita sedang menanam harapan untuk masa depan anak.

Karena pada akhirnya, menjadi ibu bukan tentang kesempurnaan—melainkan keberanian untuk peduli, belajar, dan mencintai dengan lebih sadar. (Penulis: Ririn Indriani)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *