Badai Radiasi Matahari Terbesar dalam 20 Tahun Picu Aurora di Berbagai Wilayah

Badai Radiasi Matahari Terbesar dalam 20 Tahun Picu Aurora di Berbagai Wilayah

Badai radiasi matahari terbesar dalam lebih dari 20 tahun tercatat menghantam Bumi pada 19 Januari 2026 setelah Matahari melepaskan flare kelas X1.9

yang diikuti oleh lontaran massa korona (CME) dari sunspot besar pada 18 Januari 2026.

Letusan ini tercatat dan diamati oleh instrumen satelit milik NASA seperti Solar Dynamics Observatory serta oleh Pusat Prediksi Cuaca Antariksa

NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration Space Weather Prediction Center/SWPC) yang memantau aktivitas cuaca antariksa global.

CME yang dihasilkan melaju sangat cepat dan ketika mencapai Bumi menyebabkan lonjakan intensitas partikel bermuatan sehingga tingkat radiasi badai matahari

meningkat hingga mencapai level S4 – Severe pada skala badai radiasi NOAA, yaitu salah satu level tertinggi dalam skala yang hanya memiliki lima tingkat dari S1 (minor) hingga S5 (ekstrem).

Pencapaian level S4 ini menunjukkan intensitas radiasi yang jarang terjadi dan menjadikannya sebagai salah satu peristiwa badai radiasi paling kuat sejak 2003 berdasarkan data NOAA.

Aurora Terlihat Lebih Luas

Dampak langsung dari badai radiasi ini adalah meningkatnya aktivitas aurora borealis dan aurora australis.

Cahaya aurora dilaporkan terlihat di sejumlah wilayah yang berada di lintang lebih rendah dari biasanya, termasuk beberapa bagian Eropa dan Amerika Utara,

akibat interaksi partikel Matahari dengan atmosfer Bumi.

pexels-therato-1933317

Baca Juga:

Teknologi Wearable: Sekadar Gaya atau Beneran Penting?

Apakah Teknologi Bisa Beneran Bikin Hidup Lebih Mudah?

Pesona Sunset: Momen Emas yang Dicari Traveler

Dampak terhadap Teknologi

Meski tidak membahayakan manusia di permukaan Bumi, badai radiasi matahari level S4 berpotensi memengaruhi:

  • Operasional satelit
  • Akurasi sistem navigasi GPS
  • Komunikasi radio frekuensi tinggi
  • Penerbangan di jalur lintang tinggi atau kutub

Otoritas antariksa dan penerbangan telah melakukan pemantauan serta langkah mitigasi selama periode aktivitas radiasi tinggi tersebut.

Dampak di Wilayah Tropis

Wilayah lintang rendah, termasuk Indonesia, dilaporkan hanya mengalami dampak terbatas akibat posisi geografis yang lebih terlindungi oleh medan magnet Bumi.

Badai radiasi matahari pada Januari 2026 menjadi peristiwa cuaca antariksa penting dengan intensitas tertinggi dalam lebih dari 20 tahun.

Selain memicu aurora yang meluas, fenomena ini menegaskan pentingnya pemantauan aktivitas Matahari terhadap sistem teknologi global.

Menurut GWID, seberapa penting pemantauan cuaca antariksa bagi teknologi yang kita gunakan sehari-hari, seperti GPS dan komunikasi satelit?

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *