Edukasi consent atau persetujuan sejak dini menjadi salah satu langkah penting dalam pencegahan kekerasan seksual pada anak.
Consent adalah persetujuan yang diberikan secara sadar, sukarela, dan tanpa paksaan dalam setiap interaksi yang melibatkan tubuh atau ruang pribadi seseorang.
Berbagai lembaga perlindungan anak dan perempuan menekankan bahwa pemahaman tentang batasan tubuh, hak menolak,
serta komunikasi yang sehat dapat membantu anak mengenali situasi tidak aman dan berani melapor.
Pendidikan ini dapat diberikan secara bertahap sesuai usia anak melalui kebiasaan sehari-hari di rumah, sekolah, dan lingkungan sosial.
Berikut cara mengajarkan consent sejak dini agar anak lebih aman dari kekerasan seksual.
Baca Juga:
Bentuk-Bentuk Kekerasan Seksual yang Sering Tidak Disadari Perempuan
Cara Melindungi Diri dari Kekerasan Seksual di Ruang Publik
Bohlale Mphahlele dan Alerting Earpiece: Teknologi Wearable untuk Melawan Kekerasan Berbasis Gender
Kenalkan Konsep Kepemilikan Tubuh
Langkah awal adalah mengenalkan bahwa tubuh anak adalah miliknya sendiri.
Orang tua atau pengasuh dapat menjelaskan bahwa:
- Setiap orang berhak menentukan siapa yang boleh menyentuh tubuhnya
- Anak boleh mengatakan “tidak” jika merasa tidak nyaman
- Tidak ada orang lain yang boleh memaksa
Pemahaman ini membantu anak mengenali batasan pribadi sejak kecil.
Ajarkan Nama Bagian Tubuh Secara Tepat
Menggunakan istilah anatomi yang benar membantu anak berkomunikasi lebih jelas jika terjadi sesuatu.
Anak yang mengetahui nama bagian tubuhnya cenderung:
- Lebih mudah menjelaskan kejadian
- Lebih cepat dipahami oleh orang dewasa
- Tidak merasa bingung atau malu menyampaikan keluhan
Pendekatan ini juga mempermudah proses pelaporan jika diperlukan.
Biasakan Meminta Izin dalam Interaksi Sehari-hari
Consent dapat dilatih melalui kebiasaan sederhana, seperti:
- Meminta izin sebelum memeluk atau mencium anak
- Menghargai jawaban “tidak”
- Tidak memaksa anak bersentuhan dengan orang lain
Contoh ini mengajarkan bahwa persetujuan berlaku dua arah dan harus dihormati.
Bedakan Sentuhan Aman dan Tidak Aman
Anak perlu mengetahui jenis sentuhan yang boleh dan tidak boleh.
Penjelasan dapat mencakup:
- Sentuhan aman: membantu, merawat, atau medis dengan pendamping
- Sentuhan tidak aman: membuat takut, sakit, atau rahasia
Ajarkan anak untuk segera memberi tahu orang dewasa tepercaya jika mengalami sentuhan yang membuatnya tidak nyaman.
Latih Anak Mengatakan “Tidak” dengan Tegas
Kemampuan menolak adalah bagian penting dari perlindungan diri.
Anak dapat dilatih untuk:
- Mengatakan “tidak” atau “berhenti”
- Menjauh dari situasi yang tidak nyaman
- Mencari bantuan orang dewasa
Latihan ini membantu anak merespons lebih cepat saat menghadapi risiko.
Bangun Komunikasi Terbuka di Rumah
Lingkungan yang terbuka memudahkan anak bercerita.
Orang tua dapat:
- Mendengarkan tanpa menyalahkan
- Tidak meremehkan keluhan anak
- Rutin menanyakan aktivitas harian
Komunikasi yang konsisten meningkatkan rasa aman dan kepercayaan anak.
Kenalkan Risiko di Ruang Publik dan Digital
Selain interaksi langsung, anak juga perlu memahami risiko di dunia digital.
Beberapa hal yang dapat dijelaskan:
- Tidak membagikan foto pribadi
- Tidak berbicara dengan orang asing tanpa pengawasan
- Melapor jika menerima pesan tidak pantas
Edukasi ini penting karena kekerasan seksual juga dapat terjadi secara online.
Libatkan Sekolah dan Lingkungan
Pencegahan kekerasan seksual lebih efektif jika melibatkan berbagai pihak.
Sekolah dan komunitas dapat:
- Memberikan pendidikan kesehatan reproduksi
- Menyediakan saluran pelaporan
- Menciptakan ruang aman bagi anak
Kolaborasi ini memperkuat perlindungan anak di berbagai situasi.
Penutup
Mengajarkan consent sejak dini membantu anak memahami batasan tubuh, hak menolak, dan cara mencari bantuan ketika merasa tidak aman.
Sudahkah GWID memulai kebiasaan meminta izin dan menghargai batasan diterapkan dalam interaksi sehari-hari di rumah?

