Bagi banyak perempuan, merawat keluarga, termasuk orang tua yang lanjut usia alias lansia adalah bagian dari keseharian.
Sejak menjadi ibu, seorang perempuan terbiasa memperhatikan hal-hal kecil: apakah anak sudah makan, apakah pasangan cukup istirahat, hingga apakah orang tua di rumah tetap merasa nyaman.
Namun ketika orang tua mulai memasuki lansia, ada kebutuhan lain yang sering tidak terlihat tetapi sangat penting diperhatikan, yaitu menjaga kesehatan kulit mereka.
Sebab, bagi lansia yang mulai sulit bergerak atau lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur, tekanan kecil yang terjadi berulang kali dapat berubah menjadi masalah kesehatan yang serius.
Salah satunya adalah luka dekubitus atau luka tekan.
Kondisi ini mungkin berawal dari tanda sederhana seperti kulit memerah. Namun jika tidak segera dicegah, luka dapat berkembang menjadi lebih dalam dan mengganggu kenyamanan lansia dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Indonesia Memasuki Era Aging Population
Perhatian terhadap kesehatan lansia menjadi semakin penting karena jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia terus meningkat.
Berdasarkan data resmi **Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas diperkirakan mencapai sekitar 34,07 juta jiwa, atau sekitar 12 persen dari total penduduk Indonesia.
Perubahan demografi ini menunjukkan bahwa semakin banyak keluarga Indonesia yang memiliki anggota keluarga lansia dan membutuhkan dukungan perawatan yang tepat.
Bagi banyak keluarga, terutama perempuan yang sering menjadi caregiver utama, tantangannya bukan hanya memastikan orang tua mendapatkan makanan bergizi atau obat tepat waktu.
Ada aspek lain yang tidak kalah penting: menjaga kenyamanan tubuh, termasuk kesehatan kulit.
Luka Dekubitus, Ancaman yang Sering Dianggap Sepele
Luka dekubitus merupakan kerusakan kulit dan jaringan akibat tekanan yang berlangsung lama pada area tubuh tertentu.
Biasanya kondisi ini muncul pada bagian tubuh yang menjadi titik tumpuan, seperti:
- pinggul,
- bokong,
- tumit,
- punggung,
- siku.
Masalahnya, tanda awal luka dekubitus sering kali terlihat sederhana.
Kulit hanya tampak kemerahan atau terasa lebih sensitif.
Karena tidak selalu menimbulkan rasa sakit pada tahap awal, keluarga sering baru menyadarinya ketika kondisi sudah memburuk.
Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan angka kejadian luka dekubitus di Indonesia masih berada di atas 30 persen.
Artinya, pencegahan menjadi langkah penting agar lansia tetap dapat menjalani hari-hari mereka dengan nyaman dan bermartabat.
Mengapa Kulit Lansia Lebih Rentan Mengalami Luka?
Menurut Dr. dr. Windy Keumala Budianti, Sp.DVE., Subsp.DAI., FINSDV., FAADV, lansia memiliki risiko lebih tinggi mengalami luka dekubitus karena perubahan alami yang terjadi pada kulit seiring bertambahnya usia.
“Lansia berisiko terkena luka dekubitus karena tekanan konstan akibat tubuh berada dalam satu posisi statis terlalu lama,” jelas Dr. Windy.
Ia menjelaskan, selain tekanan, faktor lain seperti paparan urin maupun kotoran secara berulang juga dapat meningkatkan kelembapan kulit.
“Kelembapan yang berlebihan dapat meningkatkan pH kulit dan merusak fungsi pelindung kulit sehingga lebih mudah mengalami maserasi, erosi, iritasi, serta rentan terhadap gesekan dan pergeseran.”
Artinya, menjaga kulit lansia tetap bersih dan kering menjadi bagian penting dari rutinitas perawatan sehari-hari.
Baca Juga:
- Model Rumah Ramah Lansia 2026: Desain Aman, Nyaman, dan Estetik agar Orang Tua Tetap Mandiri di Rumah
- Olahraga Terbaik untuk Mencegah Sarcopenia Setelah Usia 40 Tahun, Jangan Tunggu Otot Melemah Baru Mulai Bergerak
- Pensiun Bukan Akhir, Ini Cara Menemukan Usaha yang Cocok dan Tetap Menghasilkan
5 Langkah Sederhana Mencegah Luka Dekubitus di Rumah
Merawat orang tua lansia tidak selalu harus dimulai dari tindakan besar.
Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten justru dapat membantu mengurangi risiko luka tekan.
Menurut Ns. Eka Widiati, M.Kep., Sp.Kep.An., ETN, ada lima langkah yang dapat dilakukan keluarga maupun caregiver.
1. Ubah Posisi Tubuh Lansia Secara Berkala
Lansia yang terlalu lama berada dalam satu posisi memiliki risiko tekanan lebih besar pada bagian tubuh tertentu.
Karena itu, posisi tubuh perlu diubah secara berkala.
Perubahan posisi membantu mengurangi tekanan dan menjaga sirkulasi darah tetap berjalan dengan baik.
2. Periksa Kondisi Kulit Setiap Hari
Luangkan waktu beberapa menit untuk melihat kondisi kulit, terutama pada area yang sering menjadi titik tekanan.
Perhatikan jika terdapat:
- kemerahan,
- perubahan warna kulit,
- lecet,
- area yang terasa lebih hangat.
Semakin cepat tanda awal ditemukan, semakin mudah dilakukan pencegahan.
3. Jangan Memijat Area Kulit yang Mulai Memerah
Ketika melihat kulit lansia mulai memerah, sebagian orang mungkin berpikir bahwa pijatan ringan dapat membantu melancarkan aliran darah.
Namun, tindakan tersebut justru perlu dihindari.
Menurut para ahli, area kulit yang memerah dapat menjadi tanda awal adanya tekanan pada jaringan di bawah kulit. Memberikan tekanan tambahan melalui pijatan berisiko memperburuk kondisi jaringan yang sudah mengalami gangguan.
Langkah yang lebih tepat adalah mengurangi tekanan pada area tersebut, misalnya dengan mengubah posisi tubuh lansia atau memberikan perhatian lebih pada bagian kulit yang mengalami perubahan.
Bagi caregiver di rumah, kebiasaan sederhana seperti melakukan pemeriksaan kulit saat mengganti pakaian atau popok dapat membantu menemukan masalah lebih awal.
4. Pastikan Tempat Tidur Selalu Bersih, Kering, dan Nyaman
Bagi lansia yang lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur, lingkungan sekitar tubuh memiliki peran besar terhadap kesehatan kulit.
Sprei yang lembap, kusut, atau terdapat lipatan dapat meningkatkan gesekan pada kulit.
Karena itu, keluarga perlu memastikan tempat tidur dalam kondisi:
- bersih,
- kering,
- tidak banyak lipatan,
- nyaman digunakan dalam waktu lama.
Hal kecil seperti mengganti sprei secara rutin atau segera membersihkan area yang terkena cairan tubuh dapat membantu menjaga kulit lansia tetap sehat.
5. Pilih Perlengkapan Perawatan yang Membantu Menjaga Kulit Tetap Kering
Dalam banyak keluarga, perempuan sering menjadi orang pertama yang mencari solusi ketika orang tua mulai membutuhkan bantuan perawatan harian.
Mulai dari memilih makanan, mengatur jadwal obat, hingga menentukan perlengkapan yang digunakan sehari-hari.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pemilihan popok dewasa yang sesuai.
“Ketepatan memilih popok dewasa penting untuk memastikan area kulit bebas pengap, tetap kering, dan terhindar dari kelembapan berlebih,” ujar Ns. Eka Widiati, M.Kep., Sp.Kep.An., ETN.
Menurutnya, menjaga keseimbangan kelembapan kulit merupakan salah satu bagian penting dalam mencegah terjadinya iritasi dan luka tekan.
Ketika Perempuan Menjadi Penjaga Kesehatan Keluarga
Dalam banyak rumah tangga, peran caregiver sering dijalankan oleh perempuan.
Seorang anak perempuan yang membantu ibunya. Seorang istri yang merawat pasangan yang memasuki usia lanjut. Atau seorang ibu yang mendampingi anggota keluarga lain yang membutuhkan perhatian khusus.
Peran tersebut bukan hanya tentang membantu aktivitas fisik, tetapi juga mengambil keputusan kecil setiap hari yang berdampak besar terhadap kualitas hidup orang yang dirawat.
Mulai dari memilih tempat tidur yang nyaman, memastikan kulit tetap bersih, hingga memahami tanda-tanda awal masalah kesehatan.
Karena itu, pengetahuan mengenai perawatan lansia menjadi bekal penting bagi keluarga modern.
Inovasi Perawatan Lansia: Menjaga Kenyamanan Kulit Setiap Hari
Seiring meningkatnya kebutuhan perawatan lansia, inovasi produk pendukung juga terus berkembang.
Salah satu pendekatan yang mendapat perhatian adalah bagaimana membantu menjaga kulit tetap kering sekaligus nyaman digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Lifree tipe perekat dikembangkan dengan teknologi yang mendukung kebutuhan tersebut.
Produk ini menggunakan material 100 persen breathable yang dirancang membantu sirkulasi udara sehingga panas tubuh dapat keluar dari dalam popok dan kulit terasa lebih nyaman.
Selain itu, teknologi jalur serap aktif membantu menyerap urin secara cepat dan merata, sementara sistem perekatnya dirancang tetap kuat meski dilepas dan dipasang kembali saat caregiver melakukan pemeriksaan kondisi kulit.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya membantu keluarga memberikan perawatan yang lebih nyaman bagi lansia.
Edukasi Menjadi Kunci Agar Lansia Tetap Sehat dan Bermartabat
Presiden Direktur Unicharm Indonesia, Yasutaka Nishioka, mengatakan bahwa tantangan perawatan lansia tidak dapat diselesaikan hanya melalui inovasi produk.
“Unicharm memiliki misi yaitu mewujudkan masyarakat simbiosis Indonesia yang sehat, mandiri, nyaman, dan bahagia melalui produk penyerapan berkualitas seperti Lifree dan produk-produk unggulan kami lainnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setelah meluncurkan inovasi popok dewasa dengan teknologi 100 persen breathable pada 2024 dan memperoleh bukti ilmiah melalui riset klinis bersama CRSU-FKUI pada 2025 yang menunjukkan Lifree tipe perekat dapat membantu memperbaiki kondisi kulit, perusahaan melanjutkan upaya edukasi kepada tenaga kesehatan.
“Di tahun ini kami melangkah lebih jauh dengan mengedukasi lebih dari 1.000 tenaga medis melalui kolaborasi Webinar Nasional bersama PPNI.”
Menurutnya, edukasi yang melibatkan tenaga ahli menjadi bagian penting agar masyarakat memahami cara menangani kebutuhan lansia secara tepat.
Bukan Sekadar Kesehatan, tetapi Juga Menjaga Kehidupan
Memiliki orang tua yang berumur panjang adalah sebuah kebahagiaan bagi banyak keluarga.
Namun, bertambahnya usia juga membawa perubahan yang membutuhkan perhatian lebih.
Luka dekubitus mungkin terlihat seperti masalah kecil pada awalnya. Tetapi melalui pencegahan yang tepat, keluarga dapat membantu lansia menjalani hari-hari dengan lebih nyaman.
Mengubah posisi tubuh secara rutin, menjaga kulit tetap kering, memperhatikan kondisi tempat tidur, serta memahami kebutuhan khusus lansia merupakan langkah sederhana yang memiliki arti besar.
Karena pada akhirnya, merawat lansia bukan hanya tentang membantu mereka menjalani aktivitas sehari-hari.
Lebih dari itu, perawatan adalah cara keluarga menunjukkan bahwa mereka tetap dihargai, diperhatikan, dan memiliki kualitas hidup yang baik. (Penulis: Rindriani)

